Blog ini berisi tentang 1001 cerita rakyat seperti kumpulan dongeng, fabel, legenda suatu wilayah, cerita lucu, kumpulan motivasi. Selamat Membaca.

Total Tayangan Laman

Pohon Apel

           Pada suatu hari, hiduplah anak laki-laki yang senang bermain-main di bawah pohon apel. Ia bermain setiap hari hingga malam tiba. Ia sering memanjat hingga ke pucuk pohon apel. Lalu Ia sering memakan buah apelnya, dan bersantai di bawah dedaunannya yang rindang. Hari demi hari berlalu, anak laki-laki itu sangat menyukai pohon apelnya. Ia berfikir pohon apel itu menyukainya seperti yang dia rasakan.
Waktu terus berjalan, anak laki-laki itu kini telah dewasa dan dia tak bermain dengan pohon apel itu lagi. Suatu hari anak laki-laki itu datang kepada pohon apel. Wajahnya terlihat sedih. Sehingga pohon apel merasa kasihan dan melebarkan dahannya ke anak laki-laki itu.
“Kemarilah Nak, bermain-main lagi denganku seperti dulu”, kata Pohon Apel.
“Maaf, aku bukan anak kecil yang bermain memanjati pohon lagi”, jawab Anak Laki-laki itu.
“Aku sangat ingin punya mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya”, lanjut Anak Laki-laki dengan bersedih hati.
“Aku tak punya uang juga, nak… Tetapi kamu boleh mengambil semua buah apelku ini dan menjualnya ke pasar. Dengan ini, kamu bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kesukaanmu”, kata Pohon Apel dengan menunjuk apel-apel miliknya.

          Mendengar tawaran dari pohon apel, anak laki-laki itu sangat senang. Lalu Ia memetik semua buah apel dan pergi ke pasar dengan penuh kegembiaraan. Tetapi setelah itu, anak laki-laki itu tak pernah datang lagi. Dan pohon apel merasa kembali sedih dan sendiri.

           Hingga suatu hari, anak laki-laki itu tiba dan pohon apel sangat senang melihatnya. “Ayo kita bermain-main lagi seperti dulu”, kata Pohon Apel.
           “Maaf, aku tak punya waktu bermain lagi”, jawab Anak Laki-laki.
        “Aku harus mencari nafkah untuk keluargaku. Tetapi kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Wahai pohon apel, maukah engkau menolongku?”, kata Anak Laki-laki dengan bersedih hati.
       “Ummm... Maaf, aku tak mempunyai rumah pohon. Tapi kamu boleh memotong dan mengambil semua dahan rantingku ini untuk membangun rumahmu”, kata Pohon Apel dengan perasaan kasihan. Lalu anak laki-laki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel, lalu pergi dengan perasaan senang. Melihatnya pergi dengan gembira, pohon apel juga ikut merasakan bahagia. Tetapi anak laki-laki itu tak pernah bertemu dengannya lagi. Lalu pohon apel kembali kesepian dan sedih. 

          Musim panas telah tiba, anak laki-laki itu datang lagi. Pohon apel telah menanti kedatangannya dan merasa sangat senang. “Ayo bermain lagi denganku!”, kata Pohon Apel dengan senang.
          “Maaf, aku sedang bersedih hati”, kata Anak Laki-laki itu.
       “Sekarang, aku sudah tua dan ingin melihat luasnya dunia. Aku sangat ingin berlibur dan berlayar. Maukah kamu memberi aku sebuah kapal yang besar?”, lanjut Anak Laki-laki dengan penuh harapan.
      “Maaf, tapi aku pun tak mempunyai kapal. Tetapi kamu boleh memotong batang utama tubuhku untuk membuat sebuah kapal yang besar. Pergilah berlayar dan bergembeiralah bersama keluargamu”, kata Pohon Apel. Lalu anak laki-laki itu memotong batang utama pohon apel dan membuat kapal pesiar. Kemduian anak laki-laki itu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui sisa akar pohon apel itu.
           Pada suatu hari, anak laki-laki itu datang lagi setelah sekian tahun lamanya. “Maafkan aku, Nak”, kata Pohon Apel dengan sedih.
             “Aku sudah tak mempunyai buah apel lagi untuk kamu makan”, sambung Pohon Apel.
         “Tidak apa-apa, wahai Pohon Apel. Aku sudah tak memiliki gigi untuk memakan buah apelmu”, jawab Anak Laki-laki itu.
             “Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang biasa kamu panjat”, kata Pohon Apel.
             “Tidak apa-apa, sekarang aku sudah tua renta memanjatnya”, jawab Anak Laki-laki itu.
         “Dengan keadaanku saat ini, aku tak mempunyai apa-apa untuk aku berikan padamu lagi. Diriku yang tersisa hanyalah akarku ini yang sudah tua dan sekarat”, Kata Pohon Apel dengan sebuah tetesan air yang keluar dari celah akarnya.
              “Saat ini, aku tak memerlukan apa-apa. Yang aku butuhkan hanya tempat beristirahat di hari tuaku. Aku sudah sangat lelah setelah lama meninggalkanmu”, balas Anak Laki-laki dengan lemah.
            “Waaahh, momen yang tepat sekali, akar tuaku ini adalah tempat terbaik untuk bersandar dan beristirahat. Ayo, berbaringlah di pelukan akarku dan beristirahatlah dengan tenang bersamaku”, jawab Pohon Apel dengan gembira.
              Kemudian Anak Laki-laki itu berbaring di antara akar pohon apel. Dan Pohon Apel sangat gembira dan terharu dengan meneteskan setetes air melalui celah akarnya.



- SEKIAN 
Share:

No comments:

Post a Comment

Let's comment ...

Translate

Labels

Featured Post

Perang Bubat Antara Majapahit dan Sunda

Sejarah Perang Bubat berasal dari Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Prabu Linggabuana yang bernama Dyah Pitaloka Citr...

About Me

My photo
semua konten blog-blog yang saya publis adalah 100% lulus uji konten dari berbagai Duplicate Checker, terima kasih ........ My Contacts : Instagram : @suhendravebrianto ,, Twitter : @suhendravebrian
-------- SUBSCRIBE untuk mendapatkan tutorial Adobe Photoshop dan After Effect yang super keren.

Recent Posts

Populer Stories

Suhendra Vebrianto. Powered by Blogger.

BTricks

cursor

Mushroom Shroom