Blog ini berisi tentang 1001 cerita rakyat seperti kumpulan dongeng, fabel, legenda suatu wilayah, cerita lucu, kumpulan motivasi. Selamat Membaca.

Total Tayangan Laman

Asal Usul Kota Banyuwangi

              Suatu hari di ujung timur Jawa Timur, ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Raja yang adil dan bijaksana. Sang Raja mempunyai seorang putra yang bernama Raden Banterang. Ia hobi berburu. Hingga suatu hari, Raden Banterang pergi berburu ke hutan belantara dan ditemani oleh para pengawal kerajaan. Di tengah perburuan, Raden Banterang melangkah sendirian dan dia melihat seekor kijang melintas di depannya. Lalu Raden Banterang mengejar kijang itu hingga dia terpisah dengan para pengawalnya.

                “Pergi ke mana kijang tadi?”, kata Raden Banterang. 
               “Sepertinya pergi ke arah sini, kijang itu akan aku cari sampai dapat!”,  lanjut Raden Banterang. Lalu Raden Banterang melangkah lebih jauh melewati semak belukar dan pepohonan hutan. Namun kijang itu tidak ada. Tetapi Raden Banterang merasa sedikit lega karena tiba di sebuah sungai yang sangat jernih. 
             “...... Sangat segar sekali air sungai ini...”, kata Raden Banterang setelah meminum air sungai itu. Kemudian Raden Banterang beranjak pergi meninggalkan sungai. Tapi baru beberapa langkah, tiba-tiba Ia dikejutkan oleh kedatangan seorang gadis cantik jelita.


              “Kenapa ada gadis cantik jelita di tempat seperti ini? Benarkah gadis itu seorang manusia?”, pikir Raden Banterang bertanya-tanya. Lalu Raden Banterang memberanikan diri mendekati gadis itu. 
             “Wahai gadis, apakah engkau manusia atau wujud penunggu hutan ini?”, tanya Raden Banterang. 
         “Saya manusia”, jawab gadis itu dengan tersenyum. Kemudian Raden Banterang memperkenalkan dirinya dan gadis itu menerimanya. 
       “Wahai Pangeran, nama saya Surati dan berasal dari kerajaan Klungkung”, kata gadis itu dengan tersenyum.
           “Saya bisa di tempat ini karena menyelamatkan diri dari serangan musuh. Ayahanda saya telah gugur mempertahankan kerajaan kami”, lanjut Surati. Setelah mendengar cerita gadis itu, Raden Banterang merasa kasihan. Kemudian Raden Banterang menawarkan dan mengajaknya pulang ke istana. Hari demi hari berlalu, hingga Raden Banterang dan Surati menikah di istana.

            Suatu hari, Tuan Puteri Surati berjalan keluar istana. “Surati!... Surati!...”, panggil seorang laki-laki yang berpakaian kumuh. Lalu Surati melihat ke laki-laki itu. Surati tersadar bahwa laki-laki itu adalah kakak kandungnya yang bernama Rupaksa. Kedatangan Rupaksa untuk mengajak Surati membalas dendam karena Raden Banterang telah membunuh sang ayahanda. Namun Surati menolaknya dan menceritakan bahwa dia mau diperistri Raden Banterang karena pernah ditolongnya. Mendengar perkataannya, Rupaksa tiba-tiba marah pada adiknya. Setelah itu, Rupaksa memberikan sebuah kenangan berupa ikat kepala pada Surati. “Ingat! Ikat kepala ini harus kamu simpan di bawah bantal tempat tidurmu, Surati”, kata Rupaksa.

          Pertemuan Surati dengan Rupaksa tidak diketahui oleh Raden Banterang. Di saat itu, Raden Banterang sedang berburu di hutan bersama para pengawalnya. di tengah perburuan, Raden Banterang terkejut melihat kedatangan seorang laki-laki yang berpakaian kumuh. “Wahai tuanku Raden Banterang. Keselamatan Tuan terancam bahaya oleh karena rencana istri tuan sendiri,” kata Rupaksa. 
       “Tuan bisa melihat buktinya. Ada sebuah ikat kepala yang diletakkan di bawah tempat tidurnya. Ikat kepala itu titipan seorang laki-laki yang dimintai tolong untuk membunuh Tuan”, lanjut Rupaksa. Kemudian laki-laki kumuh itu menghilang secara misterius. Dan setelah Raden Banterang mendengar laporan lelaki misterius itu, Ia segera pulang ke istana. Setibanya Raden Banterang di istana, dia menuju ke tempat tidur istrinya. Raden Baterang mencari ikat kepala itu dan menemukannya di hadapan Surati. 
       “Apa ini?!! Ternyata benar kata laki-laki itu! Ikat kepala ini adalah buktinya! Kau berencana mau membunuhku dengan ikat kepala ini kan?!!”, tuduh Raden Banterang kepada sang istri.
           “Beginikah balas budimu padaku?!!”, lanjut Raden Banterang dengan marah.
          ”Jangan asal tuduh, Kakanda. Adinda sama sekali tak bermaksud membunuh Kakanda. Apalagi berasal dari seorang lelaki!” jawab Surati. Tetapi Raden Banterang tetap menduganya bahwa istrinya yang pernah ditolong saat itu akan membahayakan hidupnya. Dalam perdebatan antara Raden Banterang dan Surati, Raden Banterang ingin bukti dari Surati dan Raden Banterang berencana membalas ulah istrinya. 

          Raden Banterang berniat menenggelamkan Surati di sungai pertemuan pertama mereka. Ketika mereka tiba di sungai itu, Raden Banterang menceritakan  pertemuannya dengan seorang laki-laki kumuh ketika berburu di hutan belantara. Kemudian Surati pun menceritakan pertemuannya dengan lelaki yang seperti dijelaskan suaminya.  
         “Kakanda, laki-laki itu adalah kakak kandung Adinda. Dialah yang memberi sebuah ikat kepala itu pada Adinda”, kata Surati dengan nada yang lembut. Namun Raden Banterang tidak percaya pada ucapan Surati. 
        “Wahai kakanda suamiku! Bukalah hati Kakanda! Adinda pun rela mati demi Kakanda. Adinda mohon pada kakanda, berilah kesempatan pada Adinda untuk menceritakan semuanya dengan kakak kandung Adinda yang bernama Rupaksa itu”, kata Surati dengan bersedih hati. 
     “Sebenarnya kakak Adindalah yang ingin membunuh kakanda! Adinda dimintai membantunya, tetapi Adinda menolaknya!!”, lanjut Surati dengan penuh keyakinan. Mendengar cerita Surati, Raden Banterang masih menganggap istrinya berbohong. 
         "Bohong!! Kau pasti berbohong! Dasar wanita penipu kau!!", kata Raden Banterang pada Surati.
       “Kakanda!! Jika air sungai ini menjadi jernih dan sangat harum, berarti Adinda benar! Tetapi, jika air sungai ini tetap keruh dan berbau busuk, berarti Adinda yang salah!”, tantang Surati pada suaminya. Namun Raden Banterang tetap menganggap ucapan Surati hanya mengada-ada. Sehingga Raden Banterang mengambil dan menghunus keris dari ikat pinggangnya. Bersamaan dengan itu, Surati melompat ke tengah sungai dan menghilang.

      Beberapa saat kemudian, terjadi sebuah keajaiban. Di sekitar sungai, mulai terhirup aroma harum semerbak aroma bunga dan air sungai berubah menjadi bening dan jernih hingga dasar sungai terlihat. Melihat keajaiban itu, Raden Banterang merasa bersalah dan berkata dengan gemetar, “Istriku tidak berdosa! Air sungai ini berubah aromanya menjadi sangat harum!”.

    Raden Banterang sangat menyesali perbuatannya yang penuh emosi. Ia hanya bisa meratapi kematian sang istri dan menyesali perbuatannya yang naif. Namun rasa penyesalannya sudah terlambat. Sejak peristiwa itu, sungai itu menjadi sungai yang sangat harum dan sakral. Masyarakat di sekitar menyadari aroma wangi yang berasal dari sungai itu. Dan masyarakat setempat menyebutnya Banyuwangi. Dalam bahasa Jawa memiliki arti, yaitu "Banyu" yang berarti Air, dan "Wangi" yang berarti Harum. Hingga saat ini Banyuwangi menjadi nama sebuah kota yaitu Kota Banyuwangi.



TERIMA KASIH ...
Share:

No comments:

Post a Comment

Let's comment ...

Translate

Labels

Featured Post

Perang Bubat Antara Majapahit dan Sunda

Sejarah Perang Bubat berasal dari Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Prabu Linggabuana yang bernama Dyah Pitaloka Citr...

About Me

My photo
semua konten blog-blog yang saya publis adalah 100% lulus uji konten dari berbagai Duplicate Checker, terima kasih ........ My Contacts : Instagram : @suhendravebrianto ,, Twitter : @suhendravebrian
-------- SUBSCRIBE untuk mendapatkan tutorial Adobe Photoshop dan After Effect yang super keren.

Recent Posts

Populer Stories

Suhendra Vebrianto. Powered by Blogger.

BTricks

cursor

Mushroom Shroom