Langsung ke konten utama

Petualangan Sangkuriang dan Dayang Sumbi

Pada zaman dahulu, di sebuah kerajaan yang subur dan makmur, hiduplah seorang raja bernama Raja Sungging Perbangkara. Sang Raja gemar berburu di hutan belantara yang luas. Suatu hari, ketika berburu, Raja kehausan dan memutuskan untuk meminum air kelapa segar. Setelah meminum separuh air kelapa, ia meninggalkannya dan melanjutkan perburuannya.

Di dekat situ, seekor babi hutan betina bernama Wayungyang melihat bekas minuman Raja. Wayungyang sangat ingin menjadi manusia, sehingga ia berharap dan berdoa sambil meminum air kelapa bekas Raja Sungging itu. Ajaibnya, Wayungyang berubah menjadi seorang wanita cantik dan hamil. Beberapa waktu kemudian, ia melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik. Bayi itu kemudian dibawa ke kerajaan dan diberi nama Dayang Sumbi, yang juga dikenal dengan nama Rarasati.

Dayang Sumbi tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan anggun. Kecantikannya membuat banyak raja dari kerajaan lain ingin meminangnya. Namun, tidak ada satu pun yang diterima oleh Dayang Sumbi. Hal ini menyebabkan para raja saling berperang untuk memperebutkan Dayang Sumbi.

Merasa lelah dengan pertikaian tersebut, Dayang Sumbi memilih untuk mengasingkan diri di sebuah bukit. Ia ditemani oleh seekor anjing jantan yang setia bernama Si Tumang. Suasana di bukit sangat tenang, dengan angin yang berhembus lembut dan suara burung yang berkicau merdu. Suatu hari, saat sedang menenun, alat tenun Dayang Sumbi terjatuh ke bawah.

Dengan spontan, Dayang Sumbi berucap tanpa berpikir panjang, "Siapa pun yang mengambilkan alat tenun itu, jika berjenis kelamin laki-laki, akan aku jadikan suamiku." Si Tumang yang setia mengambilkan alat tenun tersebut dan memberikannya kepada Dayang Sumbi. Dengan pengaruh kutukan dari sosok babi hutan terdahulu, Dayang Sumbi akhirnya hamil dan melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Sangkuriang.

Sangkuriang tumbuh menjadi anak yang pemberani dan cerdas. Suatu hari, ia pergi berburu bersama Si Tumang. Di tengah perburuan, Sangkuriang melihat seekor babi hutan betina dan ingin menangkapnya. Namun, babi hutan itu terlalu cepat, sehingga Sangkuriang menyuruh Si Tumang untuk mengejarnya. Sayangnya, Si Tumang tidak berhasil menangkap babi tersebut. Sangkuriang sangat marah dan kehilangan kendali, hingga ia membunuh Si Tumang.

Sebagai bukti hasil buruannya, Sangkuriang mengambil hati Si Tumang dan membawanya pulang untuk dimasak. Setelah dimasak, Sangkuriang memberi tahu Dayang Sumbi bahwa daging hati itu adalah milik Si Tumang.

"Apa yang kamu bilang? Ini tidak mungkin! Si Tumang adalah ayahmu, Nak!" kata Dayang Sumbi dengan terkejut. "Ayahku? Tidak mungkin ayahku seekor anjing!" jawab Sangkuriang dengan bingung. "Dasar anak kurang ajar!" balas Dayang Sumbi sambil memukul kepala Sangkuriang dengan sendok nasi. Dayang Sumbi sangat marah dan mengusir Sangkuriang dari rumah. Akibat pukulan itu, Sangkuriang mengalami amnesia dan melupakan masa lalunya.

Sangkuriang pergi menggembara dan berguru pada seorang petapa sakti. Ia menghabiskan waktu dengan mempelajari berbagai ilmu bela diri dan cara untuk bertahan hidup. Ia tumbuh menjadi pemuda yang kuat dan tangguh. Suatu hari, Sangkuriang memutuskan untuk kembali ke tempat asalnya.

"Hai Nona, bolehkah aku berkenalan denganmu?" tanya Sangkuriang saat bertemu dengan Dayang Sumbi di rumahnya. Dayang Sumbi terkejut melihat pemuda itu dan menduga bahwa ia adalah anaknya yang telah lama pergi. "Boleh, nama saya Dayang Sumbi," jawab Dayang Sumbi dengan ramah.

Sangkuriang menceritakan perjalanan jauhnya, dan setelah berbicara panjang lebar, ia mengungkapkan keinginannya untuk meminang Dayang Sumbi. Mendengar permintaan tersebut, Dayang Sumbi merasa bimbang. Untuk memastikan bahwa pemuda itu adalah Sangkuriang, ia meminta untuk melihat kepala Sangkuriang. Betapa terkejutnya Dayang Sumbi saat melihat bekas luka pukulan sendok nasi yang masih terlihat jelas di kepala Sangkuriang.

"Dia memang benar anakku, Sangkuriang yang aku usir," pikir Dayang Sumbi. Namun, Dayang Sumbi tidak langsung menerima lamaran Sangkuriang. Ia meminta Sangkuriang untuk membuatkan sebuah perahu besar dan sebuah telaga dalam waktu semalam. Sangkuriang menerima permintaan tersebut tanpa ragu.

Dengan kekuatan saktinya, Sangkuriang memanggil seluruh jin pengawalnya untuk membantunya. Malam itu, hutan di sekitar mereka dipenuhi cahaya dan suara-suara aneh. Sangkuriang menebang pepohonan di timur, yang kemudian berubah menjadi Gunung Ukit Tanggul. Pepohonan di barat menjadi Gunung Burangrang. Dayang Sumbi yang melihat Sangkuriang hampir selesai dari pekerjaannya, merasa khawatir.

Untuk menggagalkan usaha Sangkuriang, Dayang Sumbi mengambil alu dan menumbuknya keras-keras. Ia melebarkan kain putih agar terlihat seperti fajar yang menyingsing dari arah timur. Sambil berdoa, Dayang Sumbi berharap Sangkuriang tidak dapat menyelesaikan tugasnya. Jin-jin pengawal Sangkuriang pun pergi meninggalkannya, membuat Sangkuriang marah.

Dalam amarahnya, Sangkuriang merusak Bendungan Sangyang Tikoro dan melemparkan kayu-kayu di sungai Citarum ke arah timur, yang kemudian berubah menjadi Gunung Manglayang. Terakhir, Sangkuriang menendang perahu besar yang telah dibuatnya ke arah utara, yang kemudian berubah menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

Sangkuriang menyadari bahwa Dayang Sumbi telah mengkhianatinya. Ia merasa sangat kecewa dan marah. Sangkuriang mengejar Dayang Sumbi dengan penuh amarah. Namun, karena kekhilafan dan kedurhakaannya, Sangkuriang terjatuh ke jurang yang bernama Ujung Berung. Sementara itu, Dayang Sumbi berlari menuju Gunung Putri, tempat ia kembali menjadi manusia normal yang tidak awet muda.

Pesan Moral: Dalam kehidupan, kita harus menerima takdir dan menjalani ujian dengan hati yang tabah. Kejujuran, kebijaksanaan, dan kesabaran adalah kunci untuk menghadapi segala rintangan. Kebohongan dan kedurhakaan hanya akan membawa kehancuran.

Karakter dalam cerita:

·  Raja Sungging Perbangkara

·  Wayungyang

·  Dayang Sumbi (Rarasati)

·  Si Tumang

·  Sangkuriang

·  Jin Pengawal

·  Petapa Sakti

 



- SEKIAN

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Si Kancil dan Sang Gajah

      Pada suatu hari yang petang, sang Kancil yang cerdik berjalan pelan-pelan di dalam hutan lebat. Ia sedang berjalan pelan-pelan dan tiba-tiba Kancil tak sengaja terjatuh ke jurang yang sangat dalam. Ia coba untuk keluar berkali-kali tapi nasibnya malangnya dan tidak berdaya. Setelah segala usaha yang dilakukan kancil sia-sia, sang Kancil pun berpikir, “Macam mana aku bisa keluar dari lubang yang sempit nan dalam ini? Kalau hujan tiba, aku bisa tenggelam disini!?” walau lama berpikir dan tak ada ide yang tepat untuk Kancil keluar dari lubang ini, sang Kancil tetap tidak mau berputus asa dan terus berfikir untuk keselamatannya. Dalam situasi yang kehabisan akal mencari ide, Kancil mendengar bunyi tapak kaki yang besar, “Hmmm... Kalau bunyi tapak kaki ramai ni, ini tak lain, pasti hewan gendut dan berkaki empat yakni gajah... Kesempatan ni...” Lalu Kancil mendapat satu ide yang tepat menyelamatkan diri dari lubang yang dalam itu. Endi...

Rubah dan Pohon Anggur yang Menggiurkan

  Pada suatu hari yang cerah di sebuah hutan yang rimbun dan penuh dengan kehidupan, hiduplah seekor rubah bernama Ruru. Ruru dikenal sebagai rubah yang cerdik dan penuh rasa ingin tahu. Hutan tempat Ruru tinggal selalu dipenuhi dengan suara kicauan burung, gemericik air sungai, dan bayangan pepohonan yang sejuk. Semua hewan di hutan itu, dari Kelinci hingga Rusa, hidup damai satu sama lain. Pagi itu, sinar matahari yang hangat menyelinap di antara dedaunan, menciptakan bayangan indah di tanah. Angin sepoi-sepoi berhembus, menggerakkan ranting-ranting pohon dan membuat dedaunan bergoyang lembut. Suara burung berkicau merdu, menambah keindahan pagi di hutan. Di hutan itu, ada juga suara gemerisik daun yang jatuh ke tanah. Terkadang, terdengar suara binatang kecil seperti serangga yang merayap di bawah daun-daunan. Ketika Ruru berjalan, dia merasakan kelembutan rumput di bawah kakinya dan aroma segar dari bunga-bunga liar yang bermekaran. Ruru, dengan bulunya yang berkilauan di b...

Kelinci dan Kura-kura: Perlombaan yang Mengubah Segalanya

Pada zaman dahulu, di sebuah hutan yang hijau dan subur, hiduplah dua hewan yang sangat berbeda sifatnya, yaitu Kelinci dan Kura-kura. Kelinci selalu merendahkan Kura-kura karena jalannya yang lambat. Padahal, dengan teman lainnya, Kura-kura selalu hidup rukun dan bersahabat. "Hai Kura-kura! Jalanmu lambat sekali!" seru Kelinci dengan suara mencemooh setiap kali mereka bertemu. Kura-kura yang rendah hati selalu sabar mendengarkan ejekan Kelinci. "Jangan menghina orang lain, Kelinci. Setiap makhluk punya kelebihan dan kekurangan masing-masing," jawab Kura-kura dengan tenang. Suatu hari, Kelinci merasa sangat jengkel karena Kura-kura selalu bersikap tenang dan tidak pernah marah. Kelinci pun menantang Kura-kura untuk mengadakan lomba lari. "Akan kuperlihatkan kepada semua binatang bahwa aku bisa lari sepuluh kali lebih cepat daripadamu," kata Kelinci dengan penuh kesombongan. "Hentikanlah bualanmu itu, Kelinci! Mari kita buktikan dengan perbuata...