Langsung ke konten utama

Si Kancil dan Kebakaran Hutan yang Misterius


Pada suatu hari yang cerah, di sebuah hutan yang rindang dan penuh dengan kehidupan, hiduplah seekor Kancil yang terkenal cerdik bernama Kiko. Pagi itu, Kiko sedang asyik tidur di bawah pohon beringin besar, menikmati angin sepoi-sepoi yang menyejukkan. Matahari bersinar terang di langit, membuat bayangan pohon tampak seperti lukisan indah di tanah.

Namun, suasana damai itu tiba-tiba terpecah dengan suara teriakan, "Tolong! Tolong!!!" Kiko pun terbangun dengan kaget. Ia melihat dari kejauhan segerombolan hewan berlari menuju ke arahnya. "Ada apa ini?" pikir Kiko dengan matanya yang masih setengah terpejam.

"Ada kebakaran! Kebakaran di hutan!" teriak seekor kambing bernama Kamira dengan suara yang gemetar. "Ayo lari, Kiko!" Kamira segera menarik Kiko untuk ikut berlari bersamanya. Asap tebal melambung tinggi ke langit, membentuk awan hitam yang mengancam.

Kiko pun segera bangkit dan berlari bersama teman-temannya, meninggalkan asap tebal yang semakin mendekat. Walaupun tubuhnya kecil, Kiko bisa berlari sangat cepat. Namun, tanpa disadari, Kiko berlari terlalu jauh hingga meninggalkan teman-temannya. "Aduh, napasku sudah habis," gumam Kiko sambil duduk di bawah pohon untuk beristirahat. "Di mana teman-temanku?"

Merasa sendirian dan ketakutan, Kiko memutuskan untuk terus berjalan mencari jalan keluar dari hutan yang asing baginya. Matahari sudah semakin tinggi dan panas terasa membakar. Kicauan burung yang biasanya menenangkan kini terdengar sayup-sayup di telinganya, membuat Kiko merasa semakin sepi.

Setelah berjam-jam berjalan, Kiko sampai di pinggir hutan dan melihat sebuah ladang yang dipenuhi sayuran dan buah-buahan milik Pak Tani. Ladang itu terlihat subur dan hijau, seolah-olah menjadi oase di tengah padang gurun. Bau segar sayuran dan buah-buahan menggelitik hidungnya, membuat perutnya yang lapar berbunyi keras.

"Syukurlah, akhirnya aku menemukan makanan," kata Kiko dengan gembira. Ladang itu penuh dengan sayuran dan buah-buahan segar. Kiko segera memakan sayuran dan buah-buahan dengan lahap. "Nikmat sekali," kata Kiko sambil mengusap perutnya yang kenyang. Perutnya yang tadinya keroncongan kini terasa nyaman.

Setelah puas makan, Kiko merebahkan diri di bawah pohon yang rindang dan tertidur kembali. Ia menikmati suara burung yang bernyanyi dan angin yang berhembus lembut. Dalam tidurnya, Kiko bermimpi indah tentang pesta sayuran dan buah-buahan yang tak pernah habis. Ketika bangun keesokan harinya, Kiko merasa lapar lagi. "Wah, pesta timun berlanjut," kata Kiko dengan semangat.

Saat siang hari, Kiko melihat Pak Tani kembali ke ladang dan terkejut melihat ladangnya yang berantakan. "Siapa yang merusak ladangku ini?" kata Pak Tani marah. "Pasti ada binatang nakal yang mencuri sayuranku!" Pak Tani tampak geram dan kebingungan, matanya berkeliling mencari si pelaku.

Pak Tani kemudian membuat sebuah boneka orang-orangan yang dilumuri dengan getah lengket sebagai perangkap untuk si pencuri. Ketika malam tiba, Kiko melihat boneka tersebut dan berpikir bahwa itu adalah teman Pak Tani. "Ah, sepertinya aku harus minta maaf," pikir Kiko dengan rasa bersalah.

"Aku minta maaf karena telah mencuri sayuranmu, Pak," kata Kiko kepada boneka itu. Namun, boneka itu tidak menjawab dan hanya diam tersenyum. Merasa diabaikan, Kiko marah dan menendang boneka tersebut. "Aduh, kakiku lengket!" teriak Kiko. Kaki Kiko pun terperangkap di boneka itu.

Ketika pagi tiba, Pak Tani kembali ke ladang dan menemukan Kiko yang terperangkap. "Akhirnya, aku menangkap pencuri ini," kata Pak Tani dengan senang. Ia membawa Kiko pulang dan mengurungnya di kandang ayam. Pak Tani berkata kepada istrinya untuk menyiapkan bumbu sate.

Di kandang ayam yang sempit dan bau, Kiko merasa sangat takut. Ia mendengar percakapan Pak Tani dan istrinya dari kejauhan. "Aku sudah siapkan bumbu satenya. Malam ini kita makan sate kancil," kata istri Pak Tani. Kiko menggigil ketakutan membayangkan nasibnya.

Malam itu, Kiko memanggil anjing penjaga rumah, "Sssst... Anjing, kemarilah!" kata Kiko. "Aku binatang peliharaan baru Pak Tani. Besok kita akan pergi ke pesta di rumah Pak Lurah." Anjing itu terkejut dan bertanya, "Benarkah? Aku yang lama ikut Pak Tani tak pernah diajak ke pesta. Malah kamu yang diajak."

Kiko tersenyum penuh arti. "Terserah kalau tak percaya. Lihat saja besok! Aku tak akan bohong," kata Kiko meyakinkan. Anjing itu akhirnya terpengaruh dan berkata, "Baiklah, aku akan membujuk Pak Tani untuk mengajakmu juga ke pesta."

"Oke, aku akan membujuk Pak Tani. Tapi malam ini kau harus menemaniku tidur di kandang ayam, bagaimana?" kata Kiko. Si Anjing langsung setuju dengan tawaran Kiko. Ia segera membuka gembok kandang dan masuk. Dengan sigap, Kiko secepatnya keluar dari kandang ayam.

"Terima kasih!!!" Kata Kiko dengan menutup kembali gembok kandang. "Maaf ya, aku terpaksa berbohong. Dan sampaikan maafku pada Pak Tani ya!" kata Kiko dan berlari secepatnya meninggalkan rumah Pak Tani. Si Anjing yang malang itu baru tersadar kalau Kiko sudah membohonginya.

Pesan Moral: Jadilah hewan atau manusia yang bertanggung jawab dan tidak merugikan orang lain. Ketidakjujuran dan tindakan nakal akan selalu mendapat konsekuensi yang tidak menyenangkan.

Karakter dalam Cerita:

1.                       Kiko (Kancil)

2.                       Kamira (Kambing)

3.                       Pak Tani

4.                       Istri Pak Tani

5.                       Anjing Penjaga

 





- SEKIAN



Catatan: 
        Si Kancil Pencuri Ketimun ini adalah karya orang Belanda untuk membuat bangsa Indonesia yang cerdik saja menjadi cerdik dan suka mencuri pada saat masa penjajahan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Si Kancil dan Sang Gajah

      Pada suatu hari yang petang, sang Kancil yang cerdik berjalan pelan-pelan di dalam hutan lebat. Ia sedang berjalan pelan-pelan dan tiba-tiba Kancil tak sengaja terjatuh ke jurang yang sangat dalam. Ia coba untuk keluar berkali-kali tapi nasibnya malangnya dan tidak berdaya. Setelah segala usaha yang dilakukan kancil sia-sia, sang Kancil pun berpikir, “Macam mana aku bisa keluar dari lubang yang sempit nan dalam ini? Kalau hujan tiba, aku bisa tenggelam disini!?” walau lama berpikir dan tak ada ide yang tepat untuk Kancil keluar dari lubang ini, sang Kancil tetap tidak mau berputus asa dan terus berfikir untuk keselamatannya. Dalam situasi yang kehabisan akal mencari ide, Kancil mendengar bunyi tapak kaki yang besar, “Hmmm... Kalau bunyi tapak kaki ramai ni, ini tak lain, pasti hewan gendut dan berkaki empat yakni gajah... Kesempatan ni...” Lalu Kancil mendapat satu ide yang tepat menyelamatkan diri dari lubang yang dalam itu. Endi...

Pangeran Kodok: Kisah Pangeran yang Diubah

  Di sebuah kerajaan yang jauh, hiduplah seorang pangeran tampan bernama Alaric. Pangeran Alaric adalah seorang pangeran yang baik hati dan bijaksana. Suatu hari, seorang penyihir jahat yang iri dengan ketampanan dan kebaikan hati Alaric mengutuknya menjadi seekor katak. Istana tempat Alaric tinggal sangat megah dengan taman yang penuh bunga berwarna-warni dan kolam ikan yang tenang. Di malam hari, lampu-lampu istana berkilauan seperti bintang, menciptakan suasana yang magis. "Alaric, apakah kau sudah siap untuk pertemuan hari ini?" tanya Raja, ayah Alaric. "Tentu saja, Ayah," jawab Alaric dengan senyum. Saat Alaric berjalan-jalan di hutan, dia bertemu dengan penyihir jahat yang bernama Morgana. Morgana mengutuk Alaric menjadi seekor katak sebagai balas dendam karena Alaric tidak mau menikah dengannya. Hutan tempat Alaric berubah menjadi katak sangat lebat dan dipenuhi dengan pepohonan tinggi yang daunnya menari-nari ditiup angin. Cahaya matahari yang masuk ...

Rubah dan Pohon Anggur yang Menggiurkan

  Pada suatu hari yang cerah di sebuah hutan yang rimbun dan penuh dengan kehidupan, hiduplah seekor rubah bernama Ruru. Ruru dikenal sebagai rubah yang cerdik dan penuh rasa ingin tahu. Hutan tempat Ruru tinggal selalu dipenuhi dengan suara kicauan burung, gemericik air sungai, dan bayangan pepohonan yang sejuk. Semua hewan di hutan itu, dari Kelinci hingga Rusa, hidup damai satu sama lain. Pagi itu, sinar matahari yang hangat menyelinap di antara dedaunan, menciptakan bayangan indah di tanah. Angin sepoi-sepoi berhembus, menggerakkan ranting-ranting pohon dan membuat dedaunan bergoyang lembut. Suara burung berkicau merdu, menambah keindahan pagi di hutan. Di hutan itu, ada juga suara gemerisik daun yang jatuh ke tanah. Terkadang, terdengar suara binatang kecil seperti serangga yang merayap di bawah daun-daunan. Ketika Ruru berjalan, dia merasakan kelembutan rumput di bawah kakinya dan aroma segar dari bunga-bunga liar yang bermekaran. Ruru, dengan bulunya yang berkilauan di b...