Langsung ke konten utama

Kelinci dan Kura-kura: Perlombaan yang Mengubah Segalanya

Pada zaman dahulu, di sebuah hutan yang hijau dan subur, hiduplah dua hewan yang sangat berbeda sifatnya, yaitu Kelinci dan Kura-kura. Kelinci selalu merendahkan Kura-kura karena jalannya yang lambat. Padahal, dengan teman lainnya, Kura-kura selalu hidup rukun dan bersahabat.

"Hai Kura-kura! Jalanmu lambat sekali!" seru Kelinci dengan suara mencemooh setiap kali mereka bertemu.

Kura-kura yang rendah hati selalu sabar mendengarkan ejekan Kelinci. "Jangan menghina orang lain, Kelinci. Setiap makhluk punya kelebihan dan kekurangan masing-masing," jawab Kura-kura dengan tenang.

Suatu hari, Kelinci merasa sangat jengkel karena Kura-kura selalu bersikap tenang dan tidak pernah marah. Kelinci pun menantang Kura-kura untuk mengadakan lomba lari. "Akan kuperlihatkan kepada semua binatang bahwa aku bisa lari sepuluh kali lebih cepat daripadamu," kata Kelinci dengan penuh kesombongan.

"Hentikanlah bualanmu itu, Kelinci! Mari kita buktikan dengan perbuatan, bukan dengan perkataan," balas Kura-kura tanpa ragu.

Kedua hewan itu pun sepakat mengadakan lomba lari. Singa Sang Raja Hutan akan menjadi wasit karena dapat mengaum dengan keras dan dapat didengar oleh seluruh penghuni hutan. Ketika Singa mengaum, tanda lomba lari dimulai. Dengan sigap Sang Kelinci berlari kencang seperti angin, woossshh!!! Sebaliknya, Kura-kura melangkahkan kakinya dengan lambat dan pasti.

Di sepanjang jalur lomba, banyak teman yang memberi semangat pada Kelinci. "Ayo Kelinci, kamu pasti menang!" teriak Rusa. Namun tak sedikit pula yang memberi semangat pada Kura-kura. "Kura-kura, tetap semangat! Kamu pasti bisa!" seru Burung Hantu dengan suara bijaknya.

Kura-kura tetap dengan langkahnya yang lambat, sesekali melihat Kelinci yang telah berada jauh di depannya. Sedangkan Sang Kelinci sesekali melihat ke belakang untuk melihat Kura-kura yang tak dapat menyusulnya jauh di belakang. Kelinci berpikir, "Pasti kemenangan ada padaku. Kakiku sangat lelah. Sebaiknya aku tidur sebentar. Walau sampai aku bangun pun, Kura-kura pasti tidak dapat menyusulku." Akhirnya Sang Kelinci tertidur dengan pulas di bawah pohon rindang di tengah hutan.

Kura-kura yang terus berjalan dengan tekun dan bersemangat, akhirnya sampai di tempat Kelinci yang sedang tertidur. Dengan berhati-hati, Sang Kura-kura melewati Kelinci yang sedang tertidur lelap. Kura-kura terus melangkah tanpa henti, meskipun langkahnya lambat, ia tetap berusaha sekuat tenaga.

Suasana di hutan semakin riuh dengan sorakan hewan-hewan yang menonton perlombaan. Mereka semua kagum dengan ketekunan Kura-kura. "Lihat, Kura-kura hampir mencapai garis finish!" teriak Gajah dengan suara keras.

Tiba-tiba Kelinci tersentak dari tidurnya karena Ia mendengar suara Singa mengaum dari jauh dengan kerasnya sebanyak tiga kali, tanda perlombaan selesai. Sang Kelinci berlari sekencang-kencangnya, namun nasib malang menimpanya. Kura-kura telah berhasil mencapai garis finish duluan. Bahkan, Kura-kura telah mendapat sambutan hangat dari penghuni hutan yang lain.

Singa Sang Raja Hutan mengumumkan, "Kura-kura adalah pemenangnya! Ia telah menunjukkan ketekunan dan kegigihan yang luar biasa!" Kura-kura tersenyum bahagia menerima ucapan selamat dari teman-temannya.

Pada akhirnya, Kelinci harus mengakui kekalahannya dalam lomba lari tersebut. Ia memberi ucapan selamat kepada Kura-kura dan berjanji tidak akan sombong lagi. "Selamat, Kura-kura. Aku benar-benar kagum dengan ketekunanmu," kata Kelinci dengan tulus.

Kura-kura merespon dengan rendah hati, "Terima kasih, Kelinci. Aku harap kita bisa menjadi sahabat baik mulai sekarang." Kelinci mengangguk setuju, dan sejak saat itu mereka menjadi sahabat yang akrab.

Namun, cerita tidak berakhir di sini. Kelinci dan Kura-kura menghadapi tantangan lain di masa depan. Mereka belajar untuk bekerja sama dan saling mendukung satu sama lain. Suatu hari, hutan mereka dilanda kekeringan yang parah. Air di sungai-sungai mengering, dan tumbuhan mulai layu. Hewan-hewan di hutan menjadi khawatir dan cemas.

Kelinci dan Kura-kura berinisiatif untuk mencari sumber air baru. Mereka mengajak teman-teman hewan lainnya untuk bergabung dalam perjalanan mencari air. "Kita harus bekerja sama untuk menemukan air. Jika tidak, kita semua akan kelaparan dan kehausan," kata Kura-kura dengan tegas.

Perjalanan mencari air tidaklah mudah. Mereka harus melewati hutan yang lebat, padang rumput yang kering, dan bukit-bukit yang terjal. Banyak hewan yang merasa lelah dan ingin menyerah, tetapi Kura-kura dan Kelinci terus memberikan semangat. "Jangan menyerah, teman-teman. Kita harus tetap berusaha," kata Kelinci dengan penuh semangat.

Suasana perjalanan menjadi penuh harapan dan semangat berkat dukungan Kelinci dan Kura-kura. Mereka terus berjalan hingga akhirnya menemukan sebuah mata air yang jernih di balik bukit. "Lihat, kita berhasil menemukan air!" seru Kelinci dengan gembira.

Semua hewan bersorak kegirangan dan merasa lega. Mereka mulai membawa air kembali ke hutan dan menyiram tumbuhan yang layu. Kekeringan pun berakhir berkat kerjasama dan ketekunan Kelinci dan Kura-kura serta teman-teman hewan lainnya.

 

Pesan Moral

Pesan Moral: Ketekunan, kerjasama, dan rendah hati adalah kunci untuk meraih kesuksesan dan mengatasi tantangan. Jangan meremehkan kemampuan orang lain, dan belajarlah untuk bekerja sama dalam menghadapi masalah.

 

Karakter dalam Cerita

·  Kelinci

·  Kura-kura

·  Singa (Raja Hutan)

·  Rusa

·  Burung Hantu

·  Gajah

·  Hewan-hewan lainnya di hutan



- SEKIAN

Komentar

  1. makasih kak, blog kakak udah bantu aku buat nyari tugas mendongeng entar pagi..



    #salam wong jowo :D

    BalasHapus
  2. iya, sama-sama dek,,
    salam wong jowo juga :)

    BalasHapus
  3. Cakep juga dogeng kura2 dengan kelincinya

    BalasHapus

Posting Komentar

Lets comment ...

Postingan populer dari blog ini

Cerita Si Kancil dan Sang Gajah

      Pada suatu hari yang petang, sang Kancil yang cerdik berjalan pelan-pelan di dalam hutan lebat. Ia sedang berjalan pelan-pelan dan tiba-tiba Kancil tak sengaja terjatuh ke jurang yang sangat dalam. Ia coba untuk keluar berkali-kali tapi nasibnya malangnya dan tidak berdaya. Setelah segala usaha yang dilakukan kancil sia-sia, sang Kancil pun berpikir, “Macam mana aku bisa keluar dari lubang yang sempit nan dalam ini? Kalau hujan tiba, aku bisa tenggelam disini!?” walau lama berpikir dan tak ada ide yang tepat untuk Kancil keluar dari lubang ini, sang Kancil tetap tidak mau berputus asa dan terus berfikir untuk keselamatannya. Dalam situasi yang kehabisan akal mencari ide, Kancil mendengar bunyi tapak kaki yang besar, “Hmmm... Kalau bunyi tapak kaki ramai ni, ini tak lain, pasti hewan gendut dan berkaki empat yakni gajah... Kesempatan ni...” Lalu Kancil mendapat satu ide yang tepat menyelamatkan diri dari lubang yang dalam itu. Endi...

Perang Bubat: Antara Cinta dan Kehormatan

Pada suatu hari, Prabu Hayam Wuruk, raja Kerajaan Majapahit, melihat lukisan seorang putri yang sangat cantik, Dyah Pitaloka Citraresmi, putri dari Prabu Linggabuana, raja Kerajaan Sunda. Lukisan itu dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman berbakat bernama Sungging Prabangkara. Hayam Wuruk tertarik kepada Dyah Pitaloka dan ingin memperistrinya. Hayam Wuruk berkeinginan mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda. Dia juga ingin menambah persekutuan dengan Negeri Sunda. Berdasarkan restu dari keluarga Kerajaan Majapahit, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Prabu Linggabuana untuk melamar Dyah Pitaloka. Pernikahan akan diadakan di Kerajaan Majapahit. Namun, pihak Kerajaan Sunda merasa keberatan, terutama Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati. Menurut adat yang berlaku di Nusantara, pengantin pria harus datang kepada pihak pengantin perempuan. Pihak Kerajaan Sunda juga berpikir bahwa ini adalah jebakan diplomatik K...

Cerita Gadis Kerudung Merah dan Sang Serigala

  Suatu hari di tepi hutan kaki gunung, berdirilah sebuah rumah. Rumah itu tidak begitu besar, tetapi dari luar terlihat sangat nyaman. Di dalam rumah itu tinggal seorang wanita tua. Meskipun sudah tua, wanita itu masih mampu mengurus dirinya sendiri. Di seberang hutan di belakang rumahnya, ada sebuah desa di mana putrinya hidup. Dari putrinya, wanita itu memiliki seorang cucu. Yaitu Seorang Gadis Kecil yang manis. Gadis kecil itu lahir saat tengah malam, saat bulan purnama penuh bersinar terang bahkan di tengah hutan yang gelap. Dan mungkin karena itulah gadis kecil itu memiliki kulit putih hampir pucat yang membuatnya seperti selalu bersinar di antara anak lainnya. Yang membuat gadis kecil itu berbeda yaitu dia sama sekali tidak takut saat malam hari. Dia seperti menjadi lebih berani saat bulan terlihat.        Saat gadis itu merayakan ulang tahunnya yang kelima, Sang nenek menghampiri dan memberinya kado ulang tahun yang terbungkus...