Pada
suatu hari yang cerah di hutan rimba, seekor rubah sedang bermain dengan riang
gembira. Rubah itu melompat-lompat di antara semak-semak dan menikmati sinar
matahari yang hangat. Pepohonan yang rindang dan daun-daun yang hijau membuat
suasana hutan terasa sangat menyenangkan. Di kejauhan, terdengar suara burung
berkicau merdu, menambah keindahan pagi itu.
Tiba-tiba,
rubah itu melihat seekor kancil yang sedang duduk santai di bawah pepohonan
yang rindang. Kancil itu tampak menikmati keteduhan dan kesejukan hutan, dengan
mata yang terpejam dan telinga yang mendengarkan alunan alam.
Rubah
yang jahil mengambil kerikil kecil dan melemparkannya ke arah kancil yang
sedang beristirahat. Kerikil itu tepat mengenai tubuh kancil, dan rubah tertawa
pelan sambil berusaha tetap sembunyi di balik dedaunan.
Kancil
yang terkena lemparan kaget dan mencari siapa yang melemparnya. Rubah yang
merasa berhasil menjahili kancil tidak menyadari bahwa kancil telah melihatnya.
Dengan sedikit marah, kancil juga mengambil kerikil dan melemparkannya ke arah
rubah. Kerikil itu mengenai tubuh rubah, dan rubah merasa sedikit kesakitan.
"Beraninya
kamu melempar saya!" kata rubah dengan nada kesal.
"Kamu
kan yang duluan ngelemparkan saya?" jawab kancil dengan nada lantang.
Rubah
pun mengambil batu yang lebih besar dan kembali melempar kancil. Kancil yang
melihat lemparan tersebut dengan gesit menghindari batu itu. Namun, di saat
yang bersamaan, seekor beruang sedang berjalan di belakang kancil. Batu besar
itu mendarat tepat di atas hidung beruang.
"Siapa
yang melakukan ini?" teriak beruang dengan marah. Dengan sedikit
ketakutan, kancil menunjuk ke arah rubah. Rubah yang merasa bersalah langsung
kabur menyelamatkan diri. Dengan penuh rasa marah, beruang berlari mengejarnya.
Karena
tubuhnya yang lebih besar, beruang kesulitan menangkap rubah yang berlari
dengan cepat di antara pohon-pohon tumbang. Rubah terus menjauhi beruang, walau
merasa belum aman. Ia tetap berlari dan akhirnya sampai di tepi sungai yang
jernih dan mengalir tenang. Rubah pun bingung tak tahu harus lari ke mana lagi,
sambil mencari cara untuk menyeberang sungai, ia menelusuri sungai dan sesekali
menoleh ke belakang.
Dalam
kebingungannya, rubah bertemu dengan seekor unta yang sedang merendam tubuhnya
di sungai.
"Halo,
sobat berpunuk," sapa rubah dengan akrab.
"Halo,
teman kecil," jawab unta dengan ramah.
"Apakah
air sungai ini dalam, sobat?" tanya rubah dengan khawatir.
"Tidak,
sungai ini hanya sebatas lututku saja. Kau boleh masuk," jawab unta dengan
tenang.
"Lihatlah
tubuhku, jika sungai ini dalam, pasti hanya kepalaku saja yang akan
kelihatan," lanjut unta sambil tertawa.
Ketika
keduanya asyik mengobrol, tiba-tiba muncul beruang dari dalam hutan. Tanpa
berpikir panjang, rubah pun langsung melompat ke sungai.
Unta
yang melihat rubah langsung masuk ke sungai terheran-heran. Setelah masuk ke
sungai, rubah tak muncul-muncul lagi, hanya terlihat gelembung air di permukaan
seperti air mendidih. Ternyata rubah tidak bisa berenang dan tenggelam.
Namun
beruntung bagi rubah, karena ia segera ditolong oleh unta dengan mengangkatnya
naik ke tepi sungai. Setelah sadar dari peristiwa tenggelam, rubah malah
memarahi unta.
"Kenapa
kamu bilang sungai ini hanya sampai lutut? Kenapa aku bisa tenggelam?"
keluh rubah dengan marah.
"Rubah,
coba kamu lihat air sungai ini. Batasnya memang sampai lututku, tetapi karena
tubuhmu pendek, sungai ini jadi dalam dan permukaan air di atas kepalamu,"
jawab unta sambil tertawa.
Kancil
yang juga muncul dari dalam hutan mendekati rubah dan unta. Ia tertawa melihat
kejadian itu.
"Makanya,
jangan sesekali sombong dan jahil, Rubah. Kamu harus belajar untuk lebih
hati-hati," kata kancil dengan bijaksana.
"Iya,
maafkan aku, Kancil dan Unta. Aku tidak akan sombong dan jahil lagi," kata
rubah dengan penuh penyesalan.
Pesan Moral
Pesan
moral dari cerita ini adalah bahwa kesombongan dan kejahilan hanya akan membawa
masalah. Kita harus selalu berhati-hati dan bijaksana dalam bertindak, serta
menghargai orang lain.
Karakter
dalam Cerita
1.
Si Rubah
2.
Si Kancil
3.
Si Beruang
4.
Si Unta
SEKIAN ...
Komentar
Posting Komentar
Lets comment ...