Pada suatu hari yang
cerah di hutan rimba, si Kancil terlihat mengantuk dengan mata yang sipit.
Matanya terasa amat berat untuk dibuka. "Huaaammm..." Si Kancil
menguap lebar. Hari itu cukup cerah, dan si Kancil merasa rugi jika hanya
berdiam diri. Ia mulai berjalan-jalan menelusuri hutan untuk mengabaikan rasa
kantuknya sejenak.
Sesampainya di atas
sebuah bukit, si Kancil berdiri dengan penuh percaya diri dan berteriak,
"Wahai penduduk seluruh hutan rimba, akulah hewan yang paling cerdas,
cerdik, dan pintar di hutan yang luas ini! Tidak ada satu pun yang bisa
menandingi kecerdasan dan kepintaranku!"
Sambil menaikkan
kepalanya, si Kancil mulai berjalan menuruni bukit itu. Ketika sampai di tepi
sungai yang airnya jernih dan segar, ia bertemu dengan seekor siput kecil.
"Hai, Kancil!"
sapa si Siput dengan ramah.
"Kenapa kamu
berteriak lantang tadi? Apakah kamu sedang senang sekarang?" tanya si
Siput penasaran.
"Ah, tidak. Aku
hanya ingin memberitahu penghuni-penghuni hutan rimba ini kalau aku adalah
hewan yang paling cerdas, cerdik, dan pintar daripada yang lainnya," jawab
si Kancil dengan penuh keyakinan.
"Sombong amat kamu,
Kancil. Kamu salah! Sebenarnya akulah hewan yang paling cerdik di hutan
ini!" kata si Siput dengan tegas.
"Whahahaha... mana
mungkin Siput sekecil dirimu?" ejek si Kancil sambil tertawa.
"Sebagai
pembuktian, bagaimana kalau besok pagi kita lomba lari?" si Siput
menantang Kancil.
"Baiklah! Aku
terima tantanganmu, wahai Siput!" jawab si Kancil dengan yakin.
Akhirnya mereka berdua
sepakat mengadakan perlombaan lari di keesokan pagi hari.
Setelah si Kancil pergi
terlebih dahulu, si Siput segera mengumpulkan teman-temannya di dalam hutan
rimba. Ia meminta tolong agar semua temannya berbaris dan bersembunyi di
sepanjang jalur perlombaan besok pagi, dan menjawab jika si Kancil
memanggilnya.
"Siput-siput
sekalian, aku butuh bantuan kalian untuk mengalahkan Kancil. Berbarislah
sepanjang jalur perlombaan dan jawab panggilannya," kata si Siput kepada
teman-temannya.
"Siap, kami akan
membantu!" jawab para siput serempak.
Hari perlombaan yang
dinanti tiba. Si Kancil dan si Siput pun siap beradu cepat di jalur perlombaan.
Suasana hutan pagi itu dipenuhi oleh suara burung berkicau dan aroma bunga yang
harum.
"Apakah kamu siap
kalah dari lomba lari melawanku?" tanya si Kancil dengan sombong.
"Tentu saja tidak,
dan aku pasti akan menang," jawab si Siput dengan yakin.
Kemudian si Siput
mempersilakan Kancil untuk berlari terlebih dahulu. Si Kancil melangkah dengan
santai, merasa yakin bahwa dirinya pasti akan menang. Setelah beberapa langkah,
si Kancil memanggil si Siput.
"Siput! Halo,
Siput! Sudah sampai mana kamu, Siput?" teriak si Kancil.
"Aku ada di
depanmu, Cil!" teriak si Siput dari depan.
Kancil terkejut dan
mempercepat langkahnya. Setiap kali ia memanggil si Siput, si Siput selalu
menjawab, "Aku ada di depanmu, Cil!"
Kancil mulai berlari
cepat, tetapi setiap kali ia memanggil si Siput, si Siput selalu muncul dan
berkata kalau dia ada di depan Kancil. Kancil terus berlari hingga keringat
bercucuran, kakinya terasa lelah, dan napasnya terengah-engah.
Akhirnya, si Kancil
melihat garis finish. Wajahnya sangat gembira karena ketika ia memanggil si
Siput, tidak ada jawaban lagi. Kancil merasa bahwa ia adalah pemenang dari
perlombaan lari pagi itu.
Namun, betapa
terkejutnya si Kancil ketika melihat si Siput sudah duduk manis di batu dekat
garis finish.
"Hai, Kancil!
Kenapa kamu lama sekali? Aku sudah menunggumu dari tadi!" teriak si Siput
dengan senyum kemenangan.
Dengan rasa malu yang
menusuk sampai ke ulu hati, si Kancil menghampiri si Siput dan mengakui
kekalahannya.
"Makanya, jangan
sesekali sombong! Kamu memang cerdik dan pandai, tetapi kamu bukanlah yang
terpandai dan tercerdik di hutan rimba ini," kata si Siput dengan
bijaksana.
"Iya, maafkan aku,
Siput. Aku tidak akan menyombongkan diri lagi," kata si Kancil dengan
penuh penyesalan.
Pesan Moral
Pesan moral dari cerita
ini adalah bahwa kesombongan hanya akan membawa kita pada kehancuran. Tidak ada
salahnya menjadi cerdas dan pandai, tetapi kita harus tetap rendah hati dan
menghargai orang lain.
Karakter dalam Cerita
1.
Si Kancil
2.
Si Siput
3.
Teman-teman si Siput
- SEKIAN
bisa gak ya
BalasHapushallo
BalasHapusbisa, ,
BalasHapusitu cuma cerita singkat saja, , :)
up up
BalasHapus